Polres Malang Kota lakukan pengamanan, Mantan Karyawan PT. Wiratanu yang lakukan Demo

Humasmakota – Anggota Polres malang kota melakukan pengamanan terhadap Puluhan orang mantan karyawan PT Wiratanu Persada Tama kembali melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor PT Wiratanu Persada Tama Cabang Kota Malang di Jl. Widas Utara No 3, Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang, Rabu (11/4/2018).

Aksi mereka kali ini disertai dengan membawa keranda dan tabur bunga di depan kantor. Salah seorang peserta aksi mengatakan, keranda dan tabur bunga Suherman (42) mengatakan, keranda itu sebagai tanda telah matinya keadilan perusahaan terhadap nasib mereka setelah di putus hubungan kerja (PHK). Sementara tabur bunga memiliki makna agar harapan para buruh yang telah di PHK terkait pesangon mereka bisa terkabul.

Dipaparkan lebih jauh oleh Herman, pesangon yang mereka peroleh saat ini tidak sesuai dengan harapan para buruh. Herman dan belasan rekan kerjanya yang lain meminta uang pesangon sesuai dengan UU Ketenagakerjaan Pasal 164 ayat 3. Jika berdasarkan UU itu, mereka menghitung uang pesangon yang didapat sebanyak Rp 35 juta. Sementara sejauh ini mereka hanya menerima Rp 18 juta.

Suherman yang sudah bekerja sejak Maret 2011 menyayangkan sikap perusahaan yang tidak memenuhi pesangon sesuai UU Ketenagakerjaan Pasal 164 ayat 3. Ia menegaskan, semestinya tunjangan fungsional dan kesejahteraan diikutkan dalam komponen upah. Apalagi ia telah diangkat sebagai karyawan tetap.

“Tunjangan fungsional dan kesejahteraan tidak diikutkan dalam komponen upah. Yang kami terima hanya 2 kali gaji pokoknya saja,” paparnya.

Sementara itu, Mukti (30) salah seorang yang di PHK karena dinilai melakukan pelanggaran juga mempertanyakan komitmen perusahaan terkait peraturan yang telah dibuat. Mukti mengaku di PHK karena telah mendapat surat peringatan 1 dan 3.

“Tidak ada surat peringatan 2. Jadi dari satu langsung ketiga,” katanya.

Ia dinilai melakukan pelanggaran karena sering telat. Kata Mukti, perusahaan tidak mentolerir keterlambatan jika lebih dari lima menit. Sedangkan Mukti sendiri sejauh ini mengaku hanya terlambat beberapa menit saja.

“Di dalam keterangan saya melakukan keterlambatan sebanyak 13 kali. Dan itu kurang dari lima menit,” keluhnya. Sementara itu, Kepala Cabang Kota Malang Ade Wiky Sugianto menyatakan, perusahaan tetap pada penjelasan sebelumnya. Ia juga mengatakan unjuk rasa yang dilakukan salah tempat dan sasaran mengingat PT Wiratanu sudah melaksanakan aturan ketenagakerjaan yang berlaku.

Dalam keterangannya, ada beberapa poin yang dijelaskan. Ade menegaskan kalau perusahaan melakukan rasionalisasi pekerja. Beberapa poin yang dijelaskan adalah bahwa antara perusahaan dan karyawan memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.

Selanjutnya adalah upaya penyelesaian sengketa dengan cara kekeluargaan. PT Wiratanu tetap membuka komunikasi dengan mantan karyawan. Ade juga menegaskan, kalau perusahaan siap menyelesaikan sengketa dengan UU yang berlaku.

Ade mengatakan, sejauh ini perusahaan telah melaksanakan prosedur sesuai dengan UU. PT Wiratanu Persada Tama melakukan pembayaran pesangon sesuai dengan UU 13/2003 Pasal 157 tentang Ketengakerjaan dan melakukan rekomendasi ke Disnaker Kota Malang.

Direktur Operasional PT Wiratanu Persada Tama, Grack George mengatakan, ada gejolak finansial internal di perusahaan sehingga mengharuskan perusahaan melakukan efisiensi. Jika tidak melakukan efisiensi, maka akan terjadi gejolak karena antara pemasukkan dan pengeluaran tidak seimbang.

“Pesangon yang sesuai hitungan mereka sendiri, perusahaan tidak bisa memenuhi karena tidak sesuai uu yang berlaku,” papar Grack.

Dipaparkan Grack, PT Wiratanu Persada Tama tersebar di tujuh kota di seluruh Indonesia. Namun hanya Kota Malang yang mengalami gejolak. Dia juga meluruskan menyebarnya informasi di Komunitas Peduli Malang yang sepihak dan cenderung menyudutkan perusahaan.

“Dan juga saya mau meluruskan. Apa yang tersebar di grup itu tidak sepenuhnya benar. Seakan-akan kami (perusahaan) yang disalahkan. Kami sudah upayakan sesuai dengan UU yang berlaku,” tegas Grack.

Rencananya, kedua belah pihak akan melakukan mediasi pada Kamis (12/4/2018) di kantor Disnaker Kota Malang pukul 9.00 wib. Mediasi itu ada ditengahi oleh Disnaker Kota Malang melalui mediator hubungan industrial Disnaker Kota Malang, Carter Wira Suteja.

http://suryamalang.tribunnews.com
Penulis: Benni Indo
Editor: yuli

 

81total visits,1visits today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *